Rabu, 30 November 2011

Indonesia "Deforestation Country"

Menurut laporan terbaru Maplecroft, sebuah lembaga analisis risiko dan pemetaan yang mengompilasikan data dari 180 negara di dunia, Nigeria, Indonesia, dan Korea Utara merupakan tiga negara dengan tingkat deforestasi paling cepat di dunia.

Negara-negara ini sangat berisiko kehilangan spesies tanaman dan hewan yang mampu menyediakan keuntungan seperti udara bersih dari hutan, sumber air untuk sungai-sungai dan mangrove yang melindungi pesisir pantai. Padahal, semua bisa membantu mendukung ekonomi negara tersebut.

“Deforestasi juga bisa merusak upaya sebuah negara dalam mengurangi emisi karbon dioksida (CO2) mereka karena hutan memegang peranan penting dalam meredam perubahan iklim global lewat penyerapan karbon,” kata Arianna Granziera, analis Maplecroft.

Indonesia sendiri kehilangan sekitar 1 juta hektar hutan per tahun. Jika dibandingkan, ukuran itu kurang lebih sama dengan 13 kali ukuran luas Singapura. Penyebab utama dari deforestasi adalah perluasan perkebunan kelapa sawit. Angkanya mencapai 16 persen dari total penyebab deforestasi.

Nigeria, negara yang berada di posisi puncak sebagai negara yang paling rajin memusnahkan kawasan hutannya, kehilangan sekitar 2 juta hektar hutan per tahun dalam kurun waktu 2005 sampai 2010 lalu. Penyebabnya adalah perluasan lahan pertanian, logging, dan perkembangan infrastruktur.

China merupakan negara terbaik yang mampu mereduksi kehilangan lahan hutan mereka karena adanya undang-undang perlindungan yang agresif dan skema penanaman kembali hutan-hutan. Tetapi ironisnya, langkah yang diambil negeri tersebut memicu deforestasi di negara lain.

“Kebutuhan pasar China yang sangat tinggi atas kayu membuat impor kayu mereka meningkat. Sebagian besar kayu dibeli China berasal dari Amerika Serikat dan Kanada. Namun banyak pula impor ilegal dari Brazil, Kamboja, dan negara-negara berkembang lain di sekelilingnya,” ucap Granziera.

Canada "Negara Maju" Menuju 'Climate Fail'

Kanada menyatakan akan segera keluar secara resmi dari Protokol Kyoto sebelum akhir tahun. Berita ini diterima dalam perundingan perubahan iklim (COP) ke-17 yang sedang berlangsung di Durban, Afrika Selatan sejak 28 November lalu. 

Ironis, karena pertemuan COP ke-17 ini seharusnya merupakan kunci kelanjutan Protokol Kyoto, dan dapat menghasilkan resolusi yang proporsional untuk upaya penyelamatan bumi.

Sejumlah seruan protes sudah mulai membahana di seluruh dunia--Paris, Berlin, Oslo, Stockholm, London, terhadap sikap Kanada itu. Di Kanada sendiri, para aktivis Greenpeace sejak kemarin, Selasa (29/11), unjuk aksi membuat tulisan besar-besar "Climate Fail" dengan lampu darurat LED yang pesannya ditujukan pada Parlemen.
Padahal delegasi-delegasi negara berkembang dalam konferensi itu meminta ketegasan dari negara maju untuk ikut mengurangi emisi gas karbon di dunia. "Uni Eropa dan negara-negara ambang industri dan berkembang seperti Cina, Brazil, dan Afrika Selatan ingin memperpanjang masa berlaku Protokol Kyoto," tulis laporan Climate Action Network (CAN) Internasional dari Durban. "Rencana Kanada ini benar-benar tamparan bagi mereka serta seluruh komunitas internasional."
Pada saat ini ini peningkatan jumlah gas karbon di dunia sudah melonjak di angka 40 persen dibandingkan tahun 1990.

Pada upacara pembukaan, sekretaris eksekutif UNFCCC, Christina Figueres sempat menekankan bahwa ada beberapa hal penting yang harus diputuskan di Durban, yaitu diresmikannya Komite Adaptasi, mengoperasionalisasikan Komite Eksekutif Teknologi pada 2012, menyepakati Green Climate Fund, dan memberikan kejelasan pada komitmen pembiayaan cepat.

Kamis, 24 November 2011

Global Dimming

Global Dimming/Peredupan Global adalah pengurangan bertahap jumlah radiasi langsung global pada permukaan bumi yang diamati selama beberapa dekade setelah dimulainya pengukuran sistematis pada tahun 1950. Efeknya bervariasi berdasarkan lokasi, tetapi di seluruh dunia telah diperkirakan menjadi urutan penurunan 4% selama tiga dekade 1960-1990.

Peredupan global diperkirakan telah disebabkan oleh peningkatan partikulat aerosol sulfat seperti di atmosfer akibat tindakan manusia.

Ini telah mengganggu siklus hidrologi dengan mengurangi penguapan dan mungkin telah mengurangi curah hujan di beberapa daerah. Peredupan global juga menciptakan efek pendinginan yang mungkin memiliki sebagian menutupi efek gas rumah kaca pada pemanasan global.

Manipulasi yang disengaja terhadap efek peredupan sekarang sedang dianggap sebagai teknik geo-engineering untuk mengurangi dampak pemanasan global.

Senin, 21 November 2011

LAPAN: Tahun Depan (2012) Kemarau Panjang

Pakar Penginderaan Jauh dan Iklim LAPAN, Edi Hermawan, meramalkan pada tahun 2012 Indonesia akan dilanda musim kemarau panjang,
Pada tahun 2010-2011, kata dia, musim basah memang mendominasi Indonesia. “Artinya tak ada jeda sedikit pun untuk musim kemarau. Panas paling 1-2 hari, maksimal satu minggu,” kata dia saat dihubungi VIVAnews.com, Selasa 10 Mei 2011.
Cuaca saat ini, tambah dia, hampir sama dengan kondisi di tahun 1998, pada saat itu Indonesia mengalami musim basah panjang selama hampir 9 bulan – satu tahun. “Ini berulang,” tambah dia.
Musim basah ini membawa akibat terhadap lumbung-lumbung pangan di Indonesia. Pemerintah berusaha menyelamatkan 11 provinsi penghasil pangan, seperti Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Jambi, seluruh wilayah Jawa, DIY, NTB, Kalimantan Selatan, Sulawesi Selatan.
“Sehebat apapun, kalau kondisi basah terus, tak ada padi yang tahan genangan selama setahun,” jelas dia.
Petani tebu pun akan merugi karena hasil panennya tak manis. Akibatnya, harga gula melonjak. Hal yang sama juga dialami petani tembakau.
Namun, kondisi ini akan berubah drastis pada tahun depan. Indonesia akan mengalami musim yang terbilang ekstrim, yakni musim kemarau panjang.
“Ini pernah terjadi pada tahun 1982 dan yang lebih parah tahun 1997. Dari itu didapatkan siklus 15 tahunan. Jadi musim kering yang cukup panjang akan kembali terjadi pada tahun 2012,” jelas Edi.
Musim kering akan terjadi sekitar Mei 2012, puncaknya di bulan Oktober. “Ini berdasarkan data, siklus matahari mencapai puncaknya, solar storm atau badai surya menunjukkan eksistensinya, walau dimungkinkan ada penyimpangan,” jelas Edi.
Musim kering tahun depan diperkirakan membawa dampak bagi masyarakat. Misalnya, waduk terancam kering, bahan pangan pun berkurang. “Ini terkait dengan ketahanan pangan, bisa saja rakyat kelaparan, pemerintah juga bisa digoyang,” tambah Edi.
Untuk itulah, persiapan harus segera dilakukan. “Apalagi, impor tak bisa ujug-ujug. Prediksi harus cepat dan tepat, untuk itu harus ada data yang akurat,” tambah dia.
Petani juga harus disiapkan. Sebab, pola tanam berubah. “Musim penghujan yang biasanya Desember, diperkirakan jadi Februari atau Maret.”
Salah satu wilayah yang paling terancam adalah Nusa Tenggara Timur. Dalam kondisi normal saja, wilayah ini bisa mengalami kekeringan lebih dari sembilan bulan. Tak hanya para pembuat kebijakan, masyarakat juga diminta bersiap menghadapi kondisi ini. “Misalnya dengan menanam tanaman pangan di sekitar rumah,” tambah dia.

Minggu, 20 November 2011

Pardofelis marmorata -Animal of The Week-

Facts





KingdomAnimalia
PhylumChordata
ClassMammalia
OrderCarnivora
FamilyFelidae
GenusPardofelis 
SizeHead-and-body length: 45 – 62 cm
Tail length: 356 – 550 mm
Weight2.4 – 3.7 kg

Status 

Kucing batu diklasifikasikan sebagai Rentan (VU) pada IUCN Red List, dan terdaftar pada Lampiran I CITES.

Deskripsi 


Kucing batu (Pardofelis marmorata) memiliki campuran yang tidak biasa karakteristik kucing kecil dan besar. Meskipun hanya tiga kilogram dan tentang ukuran kucing domestik, spesies ini dangkal menyerupai macan tutul yang jauh lebih besar di kaki yang luas, taring membesar dan sangat mirip, derai mantel bercak. Para, tebal lembut, kuning kecoklatan ditutupi bulu di bagian belakang dan sisi dalam jumlah besar, berbintik-bintik, tidak teratur berbentuk bercak margined dengan hitam. Namun, ini tanda kurang baik didefinisikan dalam kucing marmer dibandingkan sepupunya yang lebih besar, cenderung untuk menjadi lebih rusak dan marmer (maka nama), sedangkan bintik hitam pada tungkai yang lebih banyak. Ekor lebat sangat panjang, yang mencerminkan gaya hidup arboreal kucing, dan juga ditandai dengan bintik-bintik hitam dan cincin. Garis-garis hitam yang menonjol terjadi pada leher, kepala dan punggung, mulai sebagai gelap, band terputus berjalan dari sudut masing-masing mata ke atas dan melewati dahi. Garis-garis gelap khas juga menandai pipi, sementara dagu, bibir atas, pipi dan patch di sekitar mata contrastingly putih atau penggemar dalam warna. Mata kuning atau emas, dan telinga yang pendek, bulat dan hitam, dengan putih mencolok untuk tempat banteng di bagian belakang.

Daerah Persebaran


Ditemukan dari utara India dan Nepal, melalui selatan-timur Asia untuk Kalimantan dan Sumatera. Catatan Sebagian besar kucing batu dari pengamatan tunggal dan distribusi sehingga bisa lebih lebar dari saat ini dikenal.

Habitat


Meskipun terutama berpikir untuk menjadi penghuni hutan tropis lembab, persyaratan khusus kucing batu habitat kurang dikenal, dengan informasi yang tersedia hanya anekdot. Bahkan, spesies ini telah tercatat dalam berbagai habitat dari permukaan laut hingga 3.000 meter, termasuk campuran daun-cemara hutan, hutan sekunder, pembukaan, enam tahun hutan ditebang, Dipterocarp hutan dan sungai-tebing berbatu ditumbuhi dengan semak-semak belukar dan rendah.

Biologi 


Sangat sedikit yang diketahui tentang biologi, perilaku dan makanan kucing batu, kecuali apa yang telah diamati di penangkaran. Spesies ini diyakini terutama nokturnal arboreal dan lebih daripada kebanyakan kucing lainnya, yang akan membantu menjelaskan ketidakjelasan relatif, meskipun penelitian terbaru menunjukkan aktivitas selama siang dan malam. Dengan tubuhnya yang panjang, ramping, ekor sangat panjang, kaki pendek dan kaki yang luas, marmer kucing dengan baik disesuaikan untuk memanjat pohon dan telah diamati di pohon-pohon di alam liar

Konservasi


Perburuan spesies ini dilarang di Bangladesh, Kamboja, Cina (Yunnan saja), India, Indonesia, Malaysia, Myanmar, Nepal, dan Thailand. Peraturan berburu di tempat di Laos dan Singapura, dan kucing batu telah ditempatkan pada Lampiran I Konvensi Perdagangan Internasional Spesies Langka (CITES), melarang perdagangan internasional dalam spesies. Kucing batu jarang terlihat di kebun binatang dan berkembang biak di penangkaran buruk. Penyelidikan lebih lanjut ke status kucing marmer di alam liar, dan tingkat yang dapat mentolerir kerugian dan gangguan habitat hutan, adalah sangat dibutuhkan

Jumat, 18 November 2011

How Pity


JAKARTA — Sungai Ciliwung diyakini menjadi habitat bulus raksasa yang ditemukan di Tanjung Barat, Jakarta Selatan, Jumat (11/11/2011).
Ahli herpetologi dari Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati Institut Teknologi Bandung, Djoko Iskandar, mengatakan bahwa binatang dengan nama Latin Chitra chitra javanensis tersebut bukanlah hewan peliharaan warga setempat.
"Ciliwung pasti habitat bulus raksasa itu. Kalau ada yang mengatakan ini piaraan yang lepas atau introduksi, pasti itu salah," kata pria penerima Habibie Award di bidang Ilmu Dasar pada tahun 2005 itu ketika dihubungi Kompas.com, Kamis (17/11/2011).
Keyakinan Djoko didasari pada sejarah penemuan bulus raksasa tersebut. Menurutnya, ada dua bulus raksasa yang ditemukan pada 1908. Seekor di antaranya dibawa ke Museum Zoologi Bogor dan seekor lainnya dikirim ke Jerman. Selain itu, tiga bulus lainnya juga pernah ditemukan pada 1971 dan 1973.
Temuan lain adalah yang diungkapkan pakar herpetologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Mumpuni. Ia mengungkapkan, bulus raksasa itu pernah ditemukan di Sungai Ciliwung wilayah Radio Dalam dan Tanjung Priok pada 1980-an.
Djoko mengatakan, "Selain Ciliwung, bulus ini juga ditemukan di Bengawan Solo. Di sana mungkin yang terbanyak, bisa 10 ekor yang pernah ditemukan. Di Sumatera juga ada. Selain itu juga di Thailand. Ada juga yang di Burma (Myanmar), tetapi sub-spesiesnya berbeda."
Chitra chitra javanensis merupakan satwa dilindungi menurut PP7/1999, dan termasuk dalam Red List International Union for Conservation of Nature. Populasi dan perilakunya sampai saat ini belum banyak diketahui.
Dengan kepastian bahwa Ciliwung merupakan habitat bagi bulus, konservasi Sungai Ciliwung harus mendapat perhatian. Selain itu, penelitian tentang bulus raksasa ini juga harus dilakukan sehingga mendukung langkah konservasi.

Live 2 Survive Life

Juga dikenal sebagai Takhi atau kuda liar Mongolia, kuda Przewalski adalah spesies sejati terakhir dari kuda liar di Bumi. Asli dari stepa dari Cina dan Mongolia, spesies sekali berkembang di wilayah membentang lebih dari Asia Tengah dan sebagian Eropa (dari Rusia ke Jerman). Meskipun keunikannya, kuda Przewalski adalah terancam, dengan hanya 1.500 orang yang tersisa hari ini, sebagian besar dari mereka di penangkaran. Namun para peneliti di seluruh dunia telah mencoba yang terbaik untuk menyelamatkan kuda yang indah. 
kuda Przewalski itu selalu hewan liar sampai hari ini. (Salah satu penjelasan yang mungkin untuk ketidakcocokan ini kuda liar dengan kehidupan hewan piaraan adalah kenyataan bahwa ia memiliki dua kromosom lebih dari kuda-kuda yang kita lebih akrab.)
 Alasan untuk penurunan populasi, yang dimulai pada abad ke-19, bervariasi. Kuda Przewalski memiliki tingkat reproduksi yang lambat - kuda melahirkan anak kuda tunggal setelah periode kehamilan yang berlangsung satu tahun - tetapi lebih penting adalah interaksi dengan manusia dan kuda peliharaan mereka. Selama bertahun-tahun, kuda Przewalski yang kawin dengan kuda peliharaan, yang menyebabkan kehancuran warisan genetik mereka sendiri.
Selain itu, kuda Przewalski yang diburu secara berlebihan dan hilangnya habitat mereka - lagi, akibat dari campur tangan manusia. Hasil dari semua ini adalah menyedihkan. Selama abad ke 20, jumlah mereka berkurang untuk beberapa individu, dan pada tahun 1969 kuda terakhir terlihat dalam lingkungan alam, dengan spesies dinyatakan punah segera setelah di alam liar.
Dengan hanya beberapa individu yang tersisa di kebun binatang, tampaknya sangat tidak mungkin bahwa binatang ini akan bertahan. Pada tahun 1945, tentara Nazi membunuh kuda-kuda Przewalski yang diselenggarakan di sebuah cagar alam Ukraina, dan tahun 1950 hanya ada 12 kuda seperti ditinggalkan di planet ini. Namun, para ilmuwan tidak memberikan mereka. Sebuah program peternakan intensif dan kuda 'kemampuan beradaptasi sendiri Przewalski yang memberikan spesies ini kesempatan kedua.








Hari ini, beberapa dari kuda-kuda yang masih hidup 60 tahun lalu, populasi kuda  sekarang berkembang di tempat-tempat berbeda di seluruh dunia. Yang penting, dimulai pada tahun 1992
kuda Przewalski itu secara bertahap diperkenalkan kembali ke stepa Mongolia. Cepat mereka kembali adaptasi dan kerja sama dengan pengawasan hati-hati peneliti 'adalah resep sukses yang memungkinkan spesies ini untuk menyeberangi perbatasan dari "punah di alam liar" untuk "sangat terancam" dan kemudian "terancam punah" untuk hari ini